Tiada yang lebih kelam di April ini,
Selain ritual rasa,
yang sedang meriah diupacarakan,
demi secebis hidup
yang masih berbaki,
demi secebis ruang,
yang sedang dibaiki.
Di sebalik tirai itu,
ada intaian,
dalam renungan
tajam
yang memandang
dengan asyik
lelaki
yang sedang
memalingkan hatinya
jauh
dari sebuah rasa,
yang sedang
beraja
di sini.
Renungku pada awan, tembus pada hati.
Renungku pada bintang, tembus pada hati.
Renungku pada bulan, tembus pada hati.
Renungku pada mata hati, tembus pada matahari.
Silau,
Kilau,
Mencari cahaya yang semakin kelam.
Mencari sinar yang semakin karam.
Kosong,
Sesat dalam jutaan.
Cari jalan kanan.
Terarah ke jalan kiri.
Air itu mengalir tidak lesu,
Alirannya kuat, penuh emosi dan berisi,
Tak usah kau tegar berani hulur jari,
Tak usah kau sapu penuh simpati,
Air mata ini beruratkan dawai,
Boleh jadi bertulangkan besi,
Aliran ia tidak beri makna aku tunduk,
Boleh jadi alirannya kuat berhati-hati.
Teriakku pada bulan,
Kembalikan senyumanmu,
Teriakku pada bintang,
kembalikan tawamu,
Teriakku pada awan,
kembalikan sendamu,
teriakku pada pelangi,
kembalikan warna warni hidupku.